SERANG – Suara langkah anak-anak yang berangkat sekolah di Kampung Mayak, Desa Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, kini terdengar lebih ringan. Tidak ada lagi rasa khawatir saat harus menyeberangi Sungai Ciwaka seperti yang selama ini dirasakan warga.
Hal itu setelah berdirinya Jembatan Gantung Perintis Garuda, yang menjadi penghubung utama warga Kampung Mayak menuju Pasar Baros dan area pertanian. Jembatan tersebut merupakan bagian dari program pembangunan 218 titik Jembatan Garuda di seluruh Indonesia yang diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto melalui sambungan virtual, Senin (9/3/2026).
Bagi warga Kampung Mayak, kehadiran jembatan gantung ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi juga jawaban atas penantian panjang masyarakat yang selama bertahun-tahun harus bergantung pada jembatan bambu sederhana.
Sebelumnya, warga harus menyeberangi Sungai Ciwaka menggunakan jembatan bambu yang rapuh. Saat hujan deras dan debit air sungai meningkat, jembatan tersebut sering rusak bahkan hampir hanyut terbawa arus.
Tokoh masyarakat setempat, Jumrani, mengungkapkan bahwa warga sudah lama menginginkan jembatan yang lebih kuat dan aman.
“Sebenernya masyarakat sudah lama menginginkan jembatan yang kuat. Tahun 2010 pernah dibuat jembatan cor, tapi terbawa banjir sampai hancur. Kemudian diganti dengan jembatan bambu, dan hampir setiap tahun harus diperbaiki karena sudah rapuh,” ujarnya.
Kini kondisi tersebut telah berubah. Jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Ciwaka itu menjadi akses penting bagi petani menuju sawah, pedagang menuju pasar, hingga anak-anak yang setiap hari berangkat ke sekolah.
Komandan Kodim 0602/Serang, Kolonel Arm. Oke Kistiyanto, mengatakan pembangunan jembatan ini bertujuan memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Dengan adanya jembatan baru ini, masyarakat bisa lebih aman saat melewati sungai. Baik yang berangkat sekolah, pergi ke sawah, menuju pasar, atau sekadar melintas untuk pulang,” kata Oke.
Perubahan kondisi jembatan sebelum dan sesudah pembangunan juga terlihat jelas. Jika sebelumnya seorang petani harus berhati-hati melintasi jembatan bambu yang rapuh, kini anak-anak sekolah dapat berjalan dengan lebih aman melintasi Jembatan Gantung Perintis Garuda yang kokoh.
Bagi masyarakat Kampung Mayak, jembatan tersebut bukan sekadar penghubung dua wilayah, tetapi juga penghubung harapan masa depan.
“Alhamdulillah sekarang sudah aman. Petani, pedagang, dan anak sekolah bisa lewat tanpa khawatir lagi,” kata Jumrani dengan senyum lega.
Kini di atas Sungai Ciwaka, jembatan gantung itu berdiri sebagai saksi bahwa pembangunan sederhana dapat membawa perubahan besar bagi kehidupan sebuah kampung—menggantikan bambu rapuh dengan harapan yang lebih kokoh bagi masyarakat.

