Liputanbanten.com//Serang — Di balik wajah tenang pemuda bernama Galang Senja Ramadan, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh air mata, kegagalan, dan harapan. Putra dari keluarga sederhana di Kampung Pasir Manggu, Desa Dahu, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang ini membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas, sekalipun dunia seperti berulang kali menolaknya.
Galang telah tujuh kali mencoba peruntungan untuk masuk Bintara dan Tamtama Polri. Tujuh kali pula ia menerima kenyataan pahit: gagal. Usianya perlahan mendekati batas maksimal pendaftaran, hingga akhirnya kesempatan itu benar-benar tertutup.
“Saya merasa hancur… seperti semua usaha saya sia-sia,” ujar Galang terbata, mengingat momen ketika ia dinyatakan tidak bisa mendaftar lagi.
Ayah dan ibunya, bekerja sebagai buruh, bekerja keras demi menghidupi keluarga, menjadi saksi bisu bagaimana anaknya berjuang tanpa kenal lelah. Meski sederhana, doa orang tua tak pernah berhenti mengalir untuknya.
Namun, Tuhan punya jalan lain.
Ketika pendaftaran Tamtama TNI AD Gelombang 3 Tahun 2025 dibuka, secercah harapan muncul. Meski pernah jatuh berkali-kali, Galang memutuskan untuk bangkit sekali lagi.
“Saya bilang ke diri sendiri: coba lagi. Perbaiki lagi. Jangan menyerah,” ungkapnya.
Dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, ia kembali mempersiapkan diri. Semua kegagalan ia jadikan pelajaran, semua doa orang tua ia jadikan kekuatan. Dan akhirnya…
Alhamdulillah, 7 Desember 2025 Galang dinyatakan lulus sebagai Calon Tamtama AD.
Sebuah pencapaian besar bagi seorang pemuda yang pernah merasa mimpinya telah berakhir.
Air mata kebahagiaan pecah—bukan hanya dari Galang, tapi juga dari kedua orang tuanya yang sejak awal hanya bisa memberikan dukungan, bukan uang.
“Saya lulus tanpa pakai uang sepeser pun. Hanya doa orang tua. Itu yang bikin saya kuat,” ujar Galang, dengan mata berkaca-kaca.
Ia kemudian menyampaikan pesan penuh makna kepada para pemuda yang sedang berjuang:
“Jangan mudah putus asa. Kejar cita-cita kamu. Gagal itu biasa, yang penting terus bangkit.”
Kisah Galang menjadi bukti bahwa tekad, kerja keras, dan doa orang tua dapat menembus batas yang tak terlihat. Dalam setiap langkahnya, Galang tidak hanya membawa mimpinya sendiri, tetapi juga harapan keluarga dan generasi muda di kampung kecilnya.

